| Budi Dayakan Damar Kualitas Ekspor |
|
|
|
| Jumat, 30 Juli 2010 | 21:00 WIB |
|
TANAMAN damar (shorea javanica) telah dibudidayakan masyarakat pesisir Kabupaten Lampung Barat (Lambar) sejak zaman Belanda hingga sekarang. Damar menjadi salah satu bagian dari sistem usaha tani masyarakat setempat. Seperti halnya budi daya tanaman lain. Berdasarkan status lahannya, maka penyebaran tanaman damar dibedakan menjadi dua. Yaitu hutan damar rakyat dan hutan damar pada kawasan hutan. ’’Yang terkenal di sana getah damar mata kucing,” ungkap Ahmad, perwakilan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Lambar kemarin (29/7). Hutan damar rakyat mempunyai luas lahan mencapai 10.298 hektare. Terdiri atas 3.462 ha di Kecamatan Pesisir Tengah dan 6.836 ha di Kecamatan Pesisir Selatan. Getah damar mata kucing adalah produk dari system agroforesty di Krui, Lambar. Kegunaan getah damar mata kucing adalah sebagai bahan baku cat, korek api, vernis, dan pelitur. ’’Sebagian besar getah damar mata kucing diekspor ke Singapura, Hongkong, India, Jepang, dan Belanda,” lanjutnya. Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan getah damar yaitu ambon (alat pemanjat pohon damar); tembilung (wadah yang digunakan untuk mengambil atau memetik getah damar); dan kapak patil (alat untuk menyadap atau mengambil getah damar dari lubang takik). Juga bebalang (wadah yang digunakan untuk tempat mengumpulkan getah damar dari tembilung). Selain dimanfaatkan getahnya, juga kayunya untuk berbagai keperluan. ’’Kayu damar bisa digunakan untuk bangunan, kayu lapis, mebel, lantai, papan, bahan pembungkus, dan pulp,” bebernya. Sedangkan dalam meningkatkan produktivitas repong damar, pemerintah setempat telah membuat program. Yaitu memberikan bantuan bibit kepada petani repong damar. ’’Kita sudah punya program-program, tetapi masih kesulitan dalam pemasaran dan modal untuk para petaninya,” pungkasnya. (rnn/haris tiawan) |