| Jangan Anggap Remeh Krisis Ekonomi Global |
|
|
|
| Kamis, 29 September 2011 | 10:58 WIB |
|
KRISIS perekonomian secara global yang saat ini melanda dunia akibat masalah ekonomi dan keuangan yang mengimpit sebagian besar negara di kawasan Eropa serta Amerika Serikat, sejauh ini belum menimbulkan dampak serius bagi Indonesia. Terjaga baiknya kondisi makroekonomi Indonesia belakangan ini memungkinkan Indonesia tahan menghadapi guncangan. Namun, agar bisa terhindar dari imbas guncangan krisis tersebut, Indonesia tak boleh tinggal diam. Tidak ada jaminan Indonesia tidak akan terkena dampak karena krisis yang terjadi kini telah "menendang" ke segala arah. Bayangkan, seorang presiden negara superpower sekelas Barack Obama saja pusing tujuh keliling menghadapi kondisi yang ada. Begitu pun dengan sederet pimpinan negara-negara Eropa. Karena itu, Pemerintah Indonesia tidak boleh terlalu yakin Indonesia tidak akan terpengaruh. Betul, beberapa hal yang kemungkinan dapat membuat Indonesia terkena imbas krisis global sangat kecil, paling tidak belum terlihat. Likuiditas perbankan masih cukup baik. Kredit yang macet pun minim. Seperti dilaporkan Bank Indonesia (BI), fundamental ekonomi Indonesia kuat untuk mengatasi ancaman krisis global dari Amerika Serikat dan Eropa. Tapi, kondisi yang ada bukan jaminan, sebab belajar dari pengalaman masa lalu, saat menghadapi krisis keuangan melanda dunia 2008, Indonesia juga merasa kukuh. Tapi nyatanya perekonomian nasional terpuruk. Karena itu, tak ada istilah pemerintah tidak perlu khawatir, terlalu percaya diri. Semua itu malah bisa menjadi bumerang, salah-salah bisa mencelakakan diri sendiri. Yang harus dilakukan justru sikap kehati-hatian, meningkatkan kewaspadaan menghadapi berbagai kemungkinan dari dampak gonjang-ganjingnya perekonomian dunia. Penurunan kinerja pasar saham dalam negeri dan merosotnya nilai tukar rupiah yang terjadi harus diantisipasi. Pemerintah tidak boleh mengabaikan, menganggap remeh. Agar masalah yang ada tidak menjadi bola salju, pemerintah segera bertindak, misal nya selalu menjaga stabilisasi pasar surat utang negara (SUN), antara lain dengan membeli kembali (buy back), untuk mengantisipasi pelarian arus modal asing. Bank Indonesia harus menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Dampak krisis terhadap perekonomian nasional harus diminimalkan, termasuk mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap impor. Tidak tertutup kemungkinan, krisis yang melanda berbagai negara kuat dunia akan berdampak pada kinerja ekspor, yang bisa berlanjut pada timbulnya masalah dalam lapangan kerja. Karena itu, pasar dalam negeri mendesak diperluas, guna meningkatkan daya saing dan perdagangan dalam negeri. Masalah keamanan nasional dan kepercayaan harus terjaga baik. Ancaman teroris yang masih menghantui negeri ini, terakhir ditandai dengan bom bunuh diri di Solo, Jawa Tengah, bisa berakibat turunnya kepercayaan investor. Kemudian keseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi juga bisa memengaruhi ketahanan Indonesia dalam menghadapi dampak krisis ekonomi. Presiden SBY harus membuktikan bahwa Indonesia tak pandang bulu dalam memenjarakan koruptor. *** |