| Kado untuk SBY |
|
|
|
| Senin, 12 September 2011 | 11:00 WIB |
|
DI TENGAH mengalirnya ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang Jumat (9/9) kemarin genap berusia 62 tahun, SBY mengimbau agar dirinya tidak dihadiahi bingkisan, tetapi cukup didoakan saja agar mampu mengemban tanggung jawab sampai akhir kepemimpinannya tahun 2014 nanti. Harapan SBY, seperti disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha kepada pers itu, sesuatu yang wajar. Sebagai seorang pemimpin negara, tidak sepantasnya SBY menerima hadiah dari pengusaha, pejabat, dan lainnya, karena bisa-bisa berbuntut panjang, dianggap suap. Apalagi negeri ini sedang gencar-gencarnya memberantas perbuatan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Pemberian hadiah justru bisa membawanya berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagai pemimpin yang sedang berkuasa, SBY tentunya menjadi harapan banyak orang. Karena itu tidak aneh apabila ratusan, bahkan jutaan, orang ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden ke-6 itu, saat dia merayakan hari lahirnya, baik yang mendapat kesempatan menyampaikan secara langsung, melalui pesan singkat via telepon seluler (sms), maupun yang hanya lewat perasaan. Dari sekian banyak anak bangsa yang ingin menyampaikan ucapan selamat kepada seorang presidennya, tentu tak sedikit pula memiliki keinginan menyampaikan unek-unek, keluhan, permintaan, saran, bahkan semacam tuntutan. Semua itu sesuatu yang wajar, bahkan suatu keharusan. Sebagai negara demokrasi, rakyat berhak memberi masukan dan mengoreksi. Karena itu, pada saat melalui hari bahagia memperingati hari lahirnya, Presiden SBY tak perlu tersinggung jika ada yang menyampaikan "kado" ulang tahun berupa sentilan atau tuntutan agar Presiden lebih fokus pada tugas dan tanggung jawabnya. SBY seharusnya membuka diri dan menampung semua masukan. Yang baik diambil/digunakan, yang tak berguna dikesampingkan. Dalam suasana gembira, berkaitan dengan hari ulang tahun, SBY juga selayaknya mengevaluasi diri. Apakah yang telah dilakukan selama ini sudah sesuai dengan janji, hak, dan kewajiban sebagai pemimpin? Bagaimana pula dengan kabinet yang dipimpinnya, apakah sudah memenuhi harapan bangsa dan negara? SBY harus menyadari, hampir dua tahun kepemimpinan sebagai Presiden RI pada periode kedua sekarang, masih banyak persoalan mendesak untuk diselesaikan. Selain dituntut meningkatkan ekonomi rakyat, termasuk memberantas kemiskinan, membenahi pendidikan, kesehatan, sederet tugas mendesak juga menanti dituntaskan, seperti skandal Bank Century, kasus korupsi Nazaruddin, mengoptimalisasi kinerja kabinet, memodernisasi dan pembangunan infrastruktur, perbaikan angkutan massal seperti kereta api, serta stabilisasi harga sembako. Pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan SBY di atas tidak henti-hentinya disuarakan banyak elite bangsa, yang tentunya tidak boleh diabaikan. Sewajarnya pula apabila dalam suasana gembira, memperingari hari lahirnya, Presiden SBY mengemukakan komitmennya terhadap negeri ini, termasuk program meningkatkan kesejahteraan rakyat. SBY juga tidak perlu malu mengakui adanya kelemahan dalam kinerja pemerintahan yang dipimpinnya, dan berjanji memperbaikinya. *** |