| Menggenjot Swasembada Daging |
|
|
|
| Kamis, 04 Agustus 2011 | 15:15 WIB |
|
Indonesia hingga saat ini masih terus mengalami defisit daging sapi hingga 35% atau 135,1 ribu ton dari kebutuhan 391 ribu ton. Itu sebabnya pemerintah menjadwal ulang target swasembada daging yang semula diproyeksikan dicapai tahun 2010 lalu menjadi tahun 2014. Salah satu komoditas peternakan yang telah dicanangkan agar mampu ber-swasembada adalah daging sapi, suatu komoditas yang tergolong dalam kriteria high income elastic dan sekaligus memiliki berbagai tantangan yang hanya dapat diatasi melalui komitmen bersama. Sejauh ini Program Percepatan Swasembada Daging Sapi telah difokuskan di 11 provinsi yang dinilai sebagai sentra-sentra pengembangan utama produksi daging dan bibit sapi seperti Nanggroe Aceh Darussalam, Sumbar, Sumsel, Jatim, Jateng, Bali, NTB dan NTT.Ada tiga strategi besar yang harus menjadi perhatian pemerintah jika tekad swasembada benar-benar ingin diwujudkan. Pertama, pengembangan sentra pembibitan dan penggemukan. Kedua, dukungan sarana dan prasarana. Ketiga, revitalisasi kelembagaan dan sumberdaya manusia fungsional di lapangan. Terkait dengan strategi pertama, beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain: optimalisasi akseptor dan kelahiran melalui teknologi inseminasai buatan; penanganan gangguan reproduksi dan penyakit hewan; serta intensifikasi kawin alam kebutuhan pejantan. Sementara strategi kedua adalah pengembangan Rumah Potong Hewan dan pengembangan pangan lokal. Dan, strategi ketiga dalam konteks pengembangan SDM, maka kelembagaan dan kegiatan pendukung yang diimplementasikan melalui kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD) menjadi sangat penting. Sekedar contoh, merespon kondisi dimana setiap tahun lebih dari 1 (satu) juta lulusan perguruan tinggi tidak terserap dunia kerja alias menganggur dan di sisi lain tak sedikit wilayah di Tanah Air yang masih dalam kategori tertinggal. Sementara upaya percepatan pembangunan daerah tertinggal pun selama ini berjalan lamban karena terganjal faktor minimnya SDM, maka sebuah terobosan cerdas perlu dilakukan agar dunia peternakan bisa bergairah dan para generasi muda pun tinggi minatnya terhadap peternakan. Program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang digulirkan Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian merupakan salah satu contoh program strategis dalam turut mensukseskan target swasembada daging di Indonesia. Melalui program ini, para sarjana diharapkan kembali ke desa untuk menerapkan ilmunya dan mengembangkan inovasi atau penemuan di desa-desa terutama yang merupakan sentra-sentra peternakan. SMD merupakan program kerja sama Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian dengan Perguruan Tinggi. Program ini mengerahkan para sarjana ke desa-desa yang ada di Tanah Air untuk mengembangkan kelompok peternak dengan rencana bisnis dan rencana pengembangan usahanya. Komoditi ternaknya bermacam-macam dari mulai ternak kelinci, domba-kambing, unggas, sapi perah dan sapi potong. Para sarjana ini bisa berkelompok, tiga orang, misalnya, untuk menggarap bisnis bersama peternak binaan dengan lokasi di desa-desa target. Satu kelompok bisa mendapatkan dana program hingga Rp 350 juta. Kegiatan ini sangat strategis dalam membangun desa dan menguatkan perekonomian desa melalui sektor peternakan mengingat saat ini produk olahan peternakan kurang kompetitif dibandingkan dengan Negara China, dan Taiwan karena Indonesia masih mengandalkan peternak tak terdidik. Bagi para lulusan perguruan tinggi pun, melalui program SMD akan didapat banyak keuntungan, salah satunya menjadi terminal bagi para lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di masyarakat yang sesuai dengan bidangnya. Inovasi dan teknologi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat diserap langsung oleh petani/peternak sehingga dapat memberikan penyegaran bagi dunia peternakan di Tanah Air. Kondisi ini pun dapat membantu perguruan tinggi untuk mengarahkan agenda penelitiannya karena adanya demand teknologi. Sebagai contoh, berdasar hasil evaluasi program SMD tahun 2007, kemajuan yang dicapai dengan diterjunkannya para sarjana peternakan ke desa-desa menunjukkan hasil yang menggembirakan. Aset berupa populasi ternak telah bertambah lebih dari 80%, sementara aset pendukung seperti truk pengangkut ternak, tanah dan rumah telah bertambah lebih dari 70%. Bahkan saat ini para peternak di wilayah SMD sudah mempunyai penghasilan sebesar 7-12 juta per bulan. Keberhasilan program SMD ini telah memikat hati pihak perbankan. Sebagai contoh, SMD yang ditempatkan di Cibung Bulang Bogor dengan pendamping sarjana-sarjana peternakan lulusan IPB berhasil mendapatkan pembiayaan dari pihak perbankan sampai Rp 500 juta. Ini artinya bank mempercayai usaha peternakan yang dikembangkan di desa-desa melalui program SMD ini. Kondisi yang tak jauh berbeda bisa dijumpai di desa-desa lain yang menjadi sasaran SMD seperti Tangerang, Serang, Cianjur, Bekasi, Tasikmalaya, Garut, Cirebon, Sukabumi, Ciamis. Di tahun 2010 ini, Kementan berencana menggulirkan 600 paket SMD di seluruh Indonesia. Tugas seorang sarjana dalam program SMD adalah mendampingi kelompok peternak di desa dan sebagai anggota serta membantu ketua kelompok dalam men jalankan kegiatan beternak. Ia berperan dalam memajukan peternak dan kelompok dalam menghadapi berbagai kendala guna membangun kelompok agribisnis peternakan yang lebih maju dan berwawasan lebih luas yang diharapkan pada akhirnya dapat mengakses permodalan dari sumber dana perbankan dalam mengembangkan kelompok peternak tersebut. Para sarjana penggerak SMD ini diikat dalam sebuah kontrak 3-5 tahun untuk mendampingi kelompok di lapangan dengan syarat berdomisili di sekitar kelompok binaan. Ia harus mempunyai jiwa entrepreneurship dan leadership serta terbiasa dengan aktivitas di kelompok binaan. ***
Hestiana |