|
Rupiah kembali perkasa. Itulah judul yang pas untuk menyebut kondisi mata uang rupiah belakangan ini. Pasalnya, rupiah mengalami penguatan hingga menembus Rp 8.550 per dolar AS (awal Mei). Apresiasi rupiah memang menjadi fenomena moneter dan menarik dijadikan bahan kajian. Setidaknya ada dua hal yang menarik untuk dikaji terkait penguatan rupiah ini. Yaitu, apakah penguatan rupiah adalah cerminan fundamental ekonomi Indonesia sekadar atau memang tren pasar yang sekedar ingin mencari keuntungan jangka pendek.
Sayangnya, para pejabat pemerintah belakangan ini melantunkan koor yang sama, yakni mencegah penguatan rupiah lebih mendalam lagi. Ini lucu sekaligus konyol. Pasalnya, kinerja perekonomian AS memang mengalami pemburukan sehingga indeks dolar AS merosot. Akhirnya, yang terjadi adalah nilai dolar AS melemah terhadap hampir semua mata uang dunia. Kita jadi bertanya-tanya, mengapa para pejabat tinggi yang mengurusi ekonomi negeri ini menjadi resah dan gelisah terhadap apresiasi rupiah? Konon, katanya, penguatan rupiah akan menekan kinerja ekspor Indonesia. Penguatan atau pelemahan mata uang merupakan fenomena pasar yang pasti terjadi. Derasnya arus dana asing (hot money) yang masuk ke Indonesia, telah memicu permintaan rupiah yang cukup tinggi sehingga penguatan rupiah tak terbendung. Bayangkan, dalam satu bulan, dana asing yang masuk ke instrumen SBI dan SUN mencapai Rp 27 triliun. Capital inflow ini mengakibatkan cadangan devisa Indonesia meningkat pesat dan per 3 Maret lalu mencapai 101,8 miliar dolar AS (rekor baru). Fenomena derasnya dana masuk juga diakibatkan naiknya rating Indonesia menuju investment grade. Apresiasi rupiah saat ini dapat dilihat dari beberapa faktor. Pertama, penguatan rupiah karena ekspektasi mengenai masa depan perekonomian Indonesia yang dipandang positif oleh pengamat. Ekspektasi ini dikuatkan dengan penyataan sikap BI yang menaikkan tingkat pertumbuhan Indonesia dari sekitar 6% menjadi 7%-8%. Tentunya, kenaikan target pertumbuhan ini mencerminkan adanya harapan yang baik akan perkembangan perekonomian Indonesia mendatang. Selain itu ekspekstasi ini disebabkan oleh semakin baiknya perkembangan beberapa variabel makro ekonomi Indonesia. Kedua, penguatan rupiah karena imbal hasil aset rupiah dinilai lebih menarik ketimbang aset asing. Dengan asumsi adanya mobilitas modal yang sempurna antarnegara serta tingkat bunga dunia sama dengan tingkat bunga domestik. Maka, modal asing akan mencari tingkat keuntungan yang maksimal. Modal asing akan mencari tempat investasi yang memiliki tingkat pengembalian (return) yang paling menguntungkan. Di sini, ada tiga negara yang menarik, yakni India, China dan Indonesia. Selain itu, peringkat utang Indonesia juga meningkat. Dari BB menjadi BB+ (satu level di bawah investment grade). Padahal, jika Indonesia masuk dalam peringkat investment grade, maka dana asing akan masuk lebih deras lagi ke Indonesia. Memang tak dapat dipungkiri Indonesia dipandang sebagai tempat yang paling menguntungkan bersandar pada perbedaan tingkat bunga acuan The Fed yang berada di bawah 2%. Sedangkan tingkat acuan BI dalam kisaran 6,5% sehingga dengan spread atau marjin 4-5% sangatlah menjanjikan. Menariknya, imbal hasil aset domestik ditandai pula oleh naiknya IHSG ke level yang baru menembus 4.000 (pertumbuhan paling tinggi di Asia). Ketiga, penguatan rupiah tak lepas terjadi akibat kepercayaan akan stabilitas politik domestik. Dunia internasional menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Boediono, yang dipandang dapat menenteramkan dan menjaga emosi pasar pada posisi yang stabil. Apalagi, dunia telah menilai positif akan demokratisasi di Indonesia yang sarat dengan kedamaian dan jauh dari pertikaian. Dengan demikian banyak kalangan masih percaya bahwa antara ekonomi dan politik ibarat dua bagian mata uang yang tak terpisahkan dan akan saling mendukung satu sama lain. Memang, para eksportir belakangan ini dibuat kalang kabut dengan apresiasi rupiah ini. Mereka melalui asosiasinya meminta kejelasan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mengenai apreasiasi rupiah ini, apakah bersifat fundamental atau emosional semata. Jika fundamental, para eksportir akan membuat perhitungan baru. Namun, jika bersifat sementara, sia-sia saja ada perhitungan ulang. Yang jelas, untuk sementara waktu, penguatan rupiah ini akan menghimpit para eksportir. Oleh sebab itu, kejelasan mengenai persoalan ini sangat ditunggu para eksportir domestik. Apa pun kondisinya, mereka akan siap menghadapinya, dengan catatan ada kepastian yang jelas. Yang pasti, dalam jangka panjang, penguatan rupiah adalah merupakan berkah, bukan bencana. Kita tahu dengan terjadinya apresiasi rupiah akan membantu menekan inflasi dari dua sisi sekaligus. Dari sisi permintaan, apresiasi rupiah menyebabkan harga barang-barang impor yang dikonsumsi masyarakat akan menjadi lebih murah, dan ini akan ikut menekan harga-harga barang domestik sehingga biaya hidup akan menurun pula. Sedangkan dari sisi suplai, apresiasi rupiah ini menyebabkan harga raw material industri domestik yang umumnya adalah barang impor akan menjadi lebih murah (menyebabkan penurunan biaya produksi), dus selanjutnya juga ikut menekan harga barang-barang industri. ***
Susidarto
*) Penulis adalah praktisi perbankan. |