| Komoditas Perkebunan Kurang Perhatian |
|
|
|
| Kamis, 29 September 2011 | 11:10 WIB |
|
BALIKBUKIT - Kabupaten Lampung Barat (Lambar), menjadi daerah yang kaya akan komoditas perkebunan dan pertanian. Pasalnya, sebagian besar lahan wilayah diolah menjadi lahan perkebunan atau pertanian. Seperti halnya komoditas unggulan di Lambar, diantaranya kopi, kakao, cengkeh, kayu manis, dan damar, beberapa komoditas tersebut mampu dijadikan produk unggul. Produk unggul yang dihasilkan dari komoditas perkebunan mulai digalakkan masyarakat salah satunya yakni produk perkebunan kopi, yang diolah masyarakat menjadi produk kopi bubuk dan kopi rasa bahkan menjadi kopi luwak yang telah masuk pasaran internasional namun hingga saat ini yang masih belum mendapatkan perhatian yakni para warga petani kopi. “Untuk petani sawah saat sudah banyaknya mendapatkan bantuan baik berupa pupuk, bibit dan bantuan lainnya, sementara untuk petani kopi hingga saat ini pengembangan dan pendapatannya masih signifikan bahkan cendrung merosot,” kata salah seorang warga Kecamatan Balikbukit, Hidayat, kepada Radar Lambar kemarin. Dijelaskannya, rata-rata petani kopi masih berputat pada era delapan puluhan, banyak kopi yang pengurusannya hanya setengah-setengah karena tidak adanya modal sehingga kopi yang diolah petani tersebut tidak mendapatkan hasil yang maksimal. “Masih banyak petani kopi di kabupaten ini yang hanya mengandalkan tanaman tahunan tersebut sedangkan cara pengolahan serta bantuan baik berupa pupuk maupun untuk mengelolanya masih minim, namun saat ini pemerintah cendrung ke para petani sawah saja, sementara kedua kebutuhan tersebut tingkat kepentingannya sama,” ungkapnya. Terkait hal itu, pihaknya berharap agar petani kopi juga mendapatkan perhatian khusus dari pemkab sehingga petani kopi juga bisa bernapas lega terutama pada saat memasuki musim panen. “Kita sebagai petani kopi ini masih kualahan untuk mengelola kopi dan kita hanya mengandalkan lahan untuk dibersihkan dari rumput, dan di lakukan penunasan saja sementara untuk memupuk itu sama sekali miris, bahkan banyak petani yang tidak pernah memupuk kopinya. Bisa terlihat jika para petani kopi kehidupannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan,” pungkasnya.(edi saputra/lusiana) |